Rindu Tak Terucap

Jika saja kamu orang dewasa, tentu akan kutanyakan “kenapa tak bilang saja ingin bersama?”

Jika saja kamu orang dewasa, tentu akan kukatakan “datangilah, karena kamu memang menginginkannya”

Tapi, kamu bukanlah orang dewasa. Kamu belumlah bisa mengungkapkan rasa dalam hatimu. Bahkan kamu mungkin belum tahu apa itu rindu.

Ah, Nak.. kadang ku merasa bersalah karena kamu harus memendam rindu sedari kini. Kadang ku merasa egois karena menciptakan realita yang mungkin belum kamu pahami. Dan aku semakin menyadari, bahwa aku tak mungkin menjadi dua sisi yang kamu butuhkan. Aku tetaplah aku, seorang ibu bagimu. Mungkin akan sebagai teman, teman bertukar pikiran, tapi aku tetap tak akan bisa menjadi ayah bagimu.

Ah, Nak.. kepincangan ini membuatku banyak berfikir. Bagaimana aku bisa mengimbangimu? Apa yang harus kulakukan untuk menggenapkan puzzle di dalam hatimu? Selain, doa yang tak putusnya kumintakan padaNya untuk menuntunmu ditengah kealpaanku.

Ah, Nak.. maafkan aku melibatkan hidupmu dalam pertarungan hidupku. Maafkan aku jika nanti kulupa telah memaksakan caraku dalam mendidikmu.

Kumohon, berbagilah denganku. Utarakanlah perasaanmu, pikiranmu, pendapatmu. Ajari aku memahamimu, sebagaimana ku mencoba memahami diriku sendiri yang sangat berbeda denganmu.

Aku mencintaimu, Nak….

Iklan

Fosil

Cerita masa lalu. Yang mungkin takkan terceritakan lagi. Yang mungkin takkan lagi dikenang. Yang mungkin tak ingin muncul dalam ingatan.

Katanya, aku sepopuler itu dalam hatinya. Dulu. Tapi tidak kini dan nanti. Aku hanyalah sepenggal kisah lalu. Yang tak akan terakui pernah terjadi. Hanya seseorang yang dilupakan oleh masa.

Ya. Pada akhirnya, aku itu bukanlah siapa siapa untuk siapapun. Tergantikan. Tak pernah ada atau dilupakan.

Sudah saja.

#monologcinta

Petang tadi, keluar dari kampus dengan perasaan yang tenang sekali. Sambil mengingatmu. Dan berkata dalam hati “Cinta ini tak perlu dipupuk. Biar ia kerdil dengan sendirinya. Cinta ini juga tak harus diperjuangkan. Karena memang tak ada alasan untuk memperjuangkannya. Cukuplah cinta ini sanggup memberikan senyummu tiap pagi, ketenangan setiap hari, tanpa harus memaksa diakui. Membunuhnya belum tentu akan berhasil. Menyayatnya setiap hari belum tentu akan mengecil. Biarkan ia lepas dengan sendirinya. Karena jelas, ia akan pergi saat sudah waktunya”

Zombie

Bunuh diri setiap hari. Kata sahabat, sebentar lagi aku menjadi zombie. Menusuk jantung di pagi, siang dan malam hari. Agar apa, agar aku sadar, aku tak pantas bagimu. Aku tak cukup baik untuk membuatmu atau seseorang bahagia.

Pernah seseorang berkata, bahwa aku begitu penyayang. Ah dan aku akan berkata, tak ada orang yang ingin bersama seseorang yang labil, tak pernah stabil.

Orang lain juga berkata, kamu hanya belum bertemu. Setelah semua ini, apakah aku berdaya akan menemukan atau ditemukan?

Lelah yang tak berujung. Hanya memastikan aku masih hidup setiap pagi, dan masih bernafas di malam hari. Beruntunglah ada tidur panjang di setiap malamnya. Setidaknya jantung ini bisa beristirahat cukup di setiap harinya.

Wahai rindu!

Entah berapa kali berucap, entah berapa banyak tulisan. Terurai hanya dalam sebuah tatap.

Wahai rindu, apakah engkau seorang diri? Dan apakah hanya akan menjadi sebatas rindu, yang tak akan berbalas untuk sekian waktu?

Wahai rindu, kapan kamu akan menemukan tuanmu? Lalu mengubah dingin menjadi hangat lembut mentari. Menjadikan sungai bermuara dalam lautan tak bertepi. Mengubah syair menjadi untaian doa. Hingga hanya akan terucap satu nama.

Rindu, kamu tak pernah berhak sendiri. Tak jua menangis dalam sepi. Tak jua terluka dalam badai tak terperi. Tuanmu yang akan menghilangkan sedihmu. Yang akan memelukmu dan tak membiarkanmu jatuh lagi.

“Wahai tuan, apakah kamu mengenali rindu ini?”

Aku belum berilmu

Aku belum berilmu,
Yang kutahu hanyalah, akhir zaman semakin dekat
Aku belum berilmu
Yang kuyakin adalah, anakku akan mengalami hal besar dalam hidupnya

Sejak aku mengandungnya, hingga kini ia berumur lima tahun
Aku selalu yakin, anakku berpotensi untuk tak menjadi buih di lautan
Sejak kumenamainya sedemikian rupa, kuselipkan doa agar ia bisa menjadi seseorang ksatria dalam diennya

Tapi, aku belum berilmu

Sejak kumenyadari anak adalah amanah tertinggi yang kumiliki
Aku tak hentinya berfikir bagaimana cara memahaminya
Sejak kumengetahui, ia begitu berbeda denganku
Aku terus mencari tahu bagaimana cara mengenalnya dengan sebaiknya

Tapi, aku belum berilmu

Yang kutahu adalah, Tuhan mengirimkan kesadaran ini agar aku berfikir
Yang kutahu adalah, ilmu dunia yang kukejar, seharusnya bisa menjadi jembatan mengenalkan dunia kepada ia, sang calon ksatria
Ini tak pernah mudah buatku
Dan akupun tak selalu sadar untuk itu
Terkadang lalai, terkadang lupa apa tujuanku

Inilah keterbatasan itu
Walaupun kuyakin aku masih bisa terus belajar dan berusaha
Hingga terkadang kumerasa
Berjalan berdua dengan seseorang mungkin akan lebih meringankan jiwaku

Mungkin, aku terlalu ketakutan
Terlalu ambisius
Terlalu muluk dalam berangan
Tapi, akhir zaman itu pasti
Dan itu akan berlangsung tak sampai puluhan tahun
Lalu, aku selalu mempunyai dua pilihan :
Akankah menjadikan ia ksatria, atau menjadikannya buih di lautan tak bertepi

——————————————————————————–
“Tuhanku, dengan segala keterbatasan ini, kumohon didiklah ia, anakku, dengan tanganMu. Dengan segala kebodohanku ini, kumohon sampaikanlah ia, anakku, pada ilmu dan pengetahuanMu. Aku, hanyalah seorang ibu yang ingin berusaha semampuku. Mampukanlah aku Rabb. Dan hilangkanlah kekhawatiran dari dalam hatiku. Rabbi habli minasshalihin”

Sepucuk surat

Setelah percakapan kita di telfon tempo hari, aku semakin yakin untuk membatasi diri darimu. Bersikap seperti biasa, tak pernah terjadi apa apa. Alasannya hanya satu, aku tak mau membuatmu merasa tak nyaman. Tampil di depanmu dengan tersenyum, seperti biasa, tak menanyakan ini itu seperti dulu, hanya karena satu alasan, tak ingin membuatmu susah karena aku.

Tapi tahukah kamu, kekasih.. Jauh dalam hatiku selalu mengkhawatirkan dirimu. Terlebih di hari ini saat melihatmu begitu : tak bersemangat, seperti penuh tekanan, memikirkan banyak hal dan tampak lesu. Aku merasa dirimu tak baik baik saja, kekasih… Entah apa yang kau tanggung.

Dan alangkah sedihnya aku, saat aku menyadari aku tak bisa apa apa. Tak bisa bertanya ada apa, tak bisa membuatmu merasa lebih baik, tak bisa lebih dari ini. Padahal aku tahu, kamu tak baik baik saja.

Ah Tuhanku, jagalah ia yang kusayangi. Kuatkan ia dengan segala beban yang ia tanggung. Engkau yang akan menjaganya dengan sempurna, aku yakin.

Baik baiklah kekasih… seberat apapun langkahmu, sesakit apapun luka dalam dirimu…