Wahai rindu!

Entah berapa kali berucap, entah berapa banyak tulisan. Terurai hanya dalam sebuah tatap.

Wahai rindu, apakah engkau seorang diri? Dan apakah hanya akan menjadi sebatas rindu, yang tak akan berbalas untuk sekian waktu?

Wahai rindu, kapan kamu akan menemukan tuanmu? Lalu mengubah dingin menjadi hangat lembut mentari. Menjadikan sungai bermuara dalam lautan tak bertepi. Mengubah syair menjadi untaian doa. Hingga hanya akan terucap satu nama.

Rindu, kamu tak pernah berhak sendiri. Tak jua menangis dalam sepi. Tak jua terluka dalam badai tak terperi. Tuanmu yang akan menghilangkan sedihmu. Yang akan memelukmu dan tak membiarkanmu jatuh lagi.

“Wahai tuan, apakah kamu mengenali rindu ini?”

Iklan

Aku belum berilmu

Aku belum berilmu,
Yang kutahu hanyalah, akhir zaman semakin dekat
Aku belum berilmu
Yang kuyakin adalah, anakku akan mengalami hal besar dalam hidupnya

Sejak aku mengandungnya, hingga kini ia berumur lima tahun
Aku selalu yakin, anakku berpotensi untuk tak menjadi buih di lautan
Sejak kumenamainya sedemikian rupa, kuselipkan doa agar ia bisa menjadi seseorang ksatria dalam diennya

Tapi, aku belum berilmu

Sejak kumenyadari anak adalah amanah tertinggi yang kumiliki
Aku tak hentinya berfikir bagaimana cara memahaminya
Sejak kumengetahui, ia begitu berbeda denganku
Aku terus mencari tahu bagaimana cara mengenalnya dengan sebaiknya

Tapi, aku belum berilmu

Yang kutahu adalah, Tuhan mengirimkan kesadaran ini agar aku berfikir
Yang kutahu adalah, ilmu dunia yang kukejar, seharusnya bisa menjadi jembatan mengenalkan dunia kepada ia, sang calon ksatria
Ini tak pernah mudah buatku
Dan akupun tak selalu sadar untuk itu
Terkadang lalai, terkadang lupa apa tujuanku

Inilah keterbatasan itu
Walaupun kuyakin aku masih bisa terus belajar dan berusaha
Hingga terkadang kumerasa
Berjalan berdua dengan seseorang mungkin akan lebih meringankan jiwaku

Mungkin, aku terlalu ketakutan
Terlalu ambisius
Terlalu muluk dalam berangan
Tapi, akhir zaman itu pasti
Dan itu akan berlangsung tak sampai puluhan tahun
Lalu, aku selalu mempunyai dua pilihan :
Akankah menjadikan ia ksatria, atau menjadikannya buih di lautan tak bertepi

——————————————————————————–
“Tuhanku, dengan segala keterbatasan ini, kumohon didiklah ia, anakku, dengan tanganMu. Dengan segala kebodohanku ini, kumohon sampaikanlah ia, anakku, pada ilmu dan pengetahuanMu. Aku, hanyalah seorang ibu yang ingin berusaha semampuku. Mampukanlah aku Rabb. Dan hilangkanlah kekhawatiran dari dalam hatiku. Rabbi habli minasshalihin”

Sepucuk surat

Setelah percakapan kita di telfon tempo hari, aku semakin yakin untuk membatasi diri darimu. Bersikap seperti biasa, tak pernah terjadi apa apa. Alasannya hanya satu, aku tak mau membuatmu merasa tak nyaman. Tampil di depanmu dengan tersenyum, seperti biasa, tak menanyakan ini itu seperti dulu, hanya karena satu alasan, tak ingin membuatmu susah karena aku.

Tapi tahukah kamu, kekasih.. Jauh dalam hatiku selalu mengkhawatirkan dirimu. Terlebih di hari ini saat melihatmu begitu : tak bersemangat, seperti penuh tekanan, memikirkan banyak hal dan tampak lesu. Aku merasa dirimu tak baik baik saja, kekasih… Entah apa yang kau tanggung.

Dan alangkah sedihnya aku, saat aku menyadari aku tak bisa apa apa. Tak bisa bertanya ada apa, tak bisa membuatmu merasa lebih baik, tak bisa lebih dari ini. Padahal aku tahu, kamu tak baik baik saja.

Ah Tuhanku, jagalah ia yang kusayangi. Kuatkan ia dengan segala beban yang ia tanggung. Engkau yang akan menjaganya dengan sempurna, aku yakin.

Baik baiklah kekasih… seberat apapun langkahmu, sesakit apapun luka dalam dirimu…

Day 1 : diakui saja kalo takut

5.09 pm

Berfikir untuk ke bapak hari ini. Sejak kemarin berfikir demikian sebetulnya. Tapi akhirnya detik ini saya duduk disini, Indomaret sebrang NHI, sambil makan eskrim dan berkata “kenapa kamu ga sanggup untuk pergi kesana?”. Seperti ada rasa takut dan bersalah untuk menemuinya. Ia yang sekian lama tak kutemui. Ibu hanya berkata “datanglah, bagaimanapun ia bapak kamu” di sekian bulan lalu. Tapi keinginanku di hari belakangan ini, ibu belum tahu. Kamu tahu apa yang kurasakan? Rasa canggung luar biasa saat bertemu dengannya terakhir kali. Aku tak bisa menembus barrier itu. Barrier yang bertahun tahun menumpuk dalam jiwaku. Jika ada yang bertanya padaku apa aku marah, aku tegas akan menjawab tidak. Aku tak lagi marah dengan beliau. Hanya saja aku tak tahu harus seperti apa untuk mencairkan gunung es di antara kami. Itu saja. Meskipun aku tahu dan sadar, aku harus menemuinya. Sebelum sesal menderaku seumur hidup.

Bertahan? Apa bodoh?

Sampai sekarang, saya masih heran masih bisa berbunga untuk hal semacam ini. Apalagi tahu akhirnya bagaimana. Apalagi sadar, tak akan pernah dipilih. Merasa menjadi manusia paling bodoh. Karena tetap saja sendiri. Tetap saja tidak menjadi lebih baik. Tetap saja menelan segalanya bulat bulat. Tetap tak ada teman bercerita atau mengadu karena cemas. Kenapa wanita bisa teguh begini? Ini lebih ke bodoh, bukan cinta.

Masih juga harus mengakui

Sungguh aneh. Aku tak pernah bisa mendapatimu mengakuinya. Atau memang tak pernah ? Sebaiknya memang begitu. Walaupun sebagai wanita, aku ingin menjadi penyebab rindu.

Sebetulnya lebih rindu lagi saat saat itu. Sebelum aku tahu. Menebak nebak ada apa. Menikmati sendiri dengan senyum terkembang. Dan hanya aku dan Tuhan yang tahu. Ya, mencintaimu dalam rahasia sempat menyenangkan buatku.

Sekarang sudah berubah. Bertanya saja menjadi sungkan bagiku. Jujur saja menjadi tak sebebas dulu. Belum lagi cemburu yang harus kutahan. Ah jujur saja, aku tak pernah bisa untuk satu hal itu.

Sampai mana ini akan bertahan ? Kapan waktunya ini selesai? Menahan ini tak semudah itu ternyata. Bergemuruh setiap hari.